Tanah Amblas di Aceh Tengah Terus Meluas, Akses Jalan Antar Kabupaten Terancam Putus

Fenomena tanah amblas kembali menjadi perhatian serius di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Pergerakan tanah yang berlangsung puluhan tahun ini kini semakin mendekati badan jalan lintas Aceh Tengah–Bener Meriah, mengkhawatirkan masyarakat akan terputusnya akses utama.

Oleh adit
Tanah Amblas di Aceh Tengah Terus Meluas, Akses Jalan Antar Kabupaten Terancam Putus

Fenomena tanah amblas di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus meluas dan kini mengancam akses jalan utama yang menghubungkan Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Lahan amblas tersebut semakin mendekati badan jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik, sebuah jalur vital bagi mobilitas masyarakat serta distribusi hasil pertanian dari pedalaman Aceh.

Pantauan terbaru menunjukkan jarak antara titik tanah amblas dengan tepi badan jalan kini hanya sekitar satu meter, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan jalan runtuh jika terjadi hujan deras atau longsor susulan. Warga setempat menyebut fenomena ini bukan kejadian baru, melainkan peristiwa yang telah berlangsung sejak 2006 dan bahkan pernah memutus total akses jalan pada masa lalu.

Data tim geologi dari Dinas ESDM Aceh memperlihatkan bahwa area amblasan sudah mengalami perluasan signifikan selama bertahun-tahun. Pada 2011, luas area amblas tercatat sekitar 7.982 meter persegi, dan melalui pengukuran berikutnya di tahun-tahun setelahnya tercatat terus meningkat hingga angka lebih dari 27.900 meter persegi pada Februari 2025. Tren ini menunjukkan pergerakan tanah yang konsisten dan berpotensi semakin mengancam infrastruktur sekitar.

Kekhawatiran warga semakin meningkat mengingat jalan lintas yang berada di ambang potensi runtuh merupakan akses utama antar kabupaten. Jalan ini menjadi nadi mobilitas warga sehari-hari, transportasi barang, serta distribusi hasil pertanian, sehingga bila jalan benar-benar putus, dikhawatirkan akan berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat dan kehidupan sosial di dua kabupaten tersebut.

Sejumlah warga kepada media lokal menyatakan rasa was-was mereka, terutama saat musim hujan dengan curah tinggi seperti yang sering terjadi di awal tahun ini. Mereka berharap pemerintah segera melakukan langkah antisipatif guna mencegah dampak lebih luas, baik dengan stabilisasi tanah, penanganan darurat, atau penyediaan jalur alternatif.

Fenomena tanah amblas di Aceh Tengah ini menjadi pengingat akan pentingnya pemantauan geologi dan mitigasi bencana secara berkelanjutan, terutama di wilayah pegunungan yang rawan pergerakan tanah seperti Gayo Highlands. Staf lokal dan instansi terkait kini tengah mengkaji langkah terbaik untuk menangani isu tersebut sebelum jalan benar-benar terputus dan menggangu kehidupan masyarakat secara signifikan.

Terkait

Artikel Terkait

Tanah Amblas di Aceh Tengah Terus Meluas, Akses Jalan Antar Kabupaten Terancam Putus | Kenal Jakarta