PolitikKeuangan

Gaji Turun, Sistem Error, Tapi Pesta Mewah? Nasib Nasabah Bank Jakarta di Balik Acara Gemerlap

Anggota DPRD DKI Justin Adrian soroti kontradiksi Bank Jakarta: laba merosot dari Rp1 triliun ke Rp330 miliar, sistem sering down, tapi gelar acara mewah dengan artis top. Simak analisis dampak dan harapan perbaikan layanan.

Penulis:zanfuu
27 April 2026
Gaji Turun, Sistem Error, Tapi Pesta Mewah? Nasib Nasabah Bank Jakarta di Balik Acara Gemerlap

Bayangkan Anda sedang antre panjang di mesin ATM, ingin mengambil gaji yang baru turun, tapi layar tiba-tiba gelap. Atau saat Anda hendak transfer dana darurat, aplikasi malah error. Rasanya kesal, kan? Nah, kenyataan pahit inilah yang dirasakan ribuan nasabah Bank Jakarta dalam beberapa bulan terakhir. Di tengah keluhan yang menumpuk dan laba yang terus merosot, pihak manajemen justru menggelar acara mewah bertajuk Employee Gathering 2026. Undangannya artis papan atas, tempatnya di Jakarta International Convention Center (JICC). Ini bukan soal pesta biasa; ini tentang prioritas yang salah arah.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Justin Adrian Untayana, angkat bicara. Ia mempertanyakan logika di balik pesta pora itu. "Laba turun drastis, sistem layanan sering tumbang, tapi kok malah hura-hura? Ini bukan waktunya selebrasi, ini waktunya kerja keras," ujarnya dengan nada heran. Dan data memang membuktikan kekhawatiran Justin. Laporan keuangan Bank Jakarta menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: laba bersih merosot dari Rp1,02 triliun di 2023 menjadi Rp779 miliar di 2024, dan anjlok lagi ke Rp330 miliar di 2025. Dalam dua tahun, bank tersebut kehilangan hampir 70% labanya. Ini bukan penurunan biasa; ini alarm bahaya.

Sistem Error Tepat di Waktu Kritis

Masalah yang paling menyentuh nasabah adalah gangguan sistem yang tak kunjung selesai. Justin menyoroti bagaimana error terjadi di momen-momen paling tidak tepat. "Waktu Lebaran tahun lalu, saat banyak orang butuh uang untuk belanja dan mudik, sistemnya malah down. Ada dugaan peretasan yang gagal dicegah. Sampai sekarang, error masih sering terjadi, apalagi pas gajian," ungkapnya. Ini bukan sekadar gangguan teknis; ini soal kepercayaan yang terkikis.

Bayangkan seorang pekerja keras yang setiap bulan setor gajinya ke Bank Jakarta. Saat ingin menarik uang untuk kebutuhan keluarga, aplikasi error. Atau seorang ibu yang ingin transfer uang sekolah anak, transaksinya gagal total. Kepercayaan publik adalah aset paling berharga bagi bank, dan ketika sistem sering bermasalah, nasabah akan mulai mencari alternatif. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa kepuasan nasabah perbankan nasional rata-rata di atas 85%, namun bank dengan riwayat gangguan sistem seperti ini sering kali berada di bawah rata-rata.

Pesta Mewah vs Prioritas Perbaikan

Lalu, apa yang terjadi dengan uang yang dihabiskan untuk acara tersebut? Justin dengan tegas menyebutnya sebagai pemborosan. "Lebih baik dana itu dipakai untuk perbaikan internal. Sistem perlu di-upgrade, pelatihan staf perlu ditingkatkan, dan yang terpenting, kepercayaan nasabah harus dipulihkan," tegasnya. Dalam dunia bisnis, ada konsep "cost of poor quality" (biaya akibat kualitas buruk). Setiap error sistem tidak hanya membuat nasabah kesal, tetapi juga berpotensi menimbulkan biaya besar berupa keluhan, kompensasi, dan yang paling parah, kehilangan nasabah. Bayangkan berapa banyak nasabah yang mungkin beralih ke bank lain karena kecewa. Biaya akuisisi nasabah baru sangat mahal, sementara mempertahankan nasabah lama sebenarnya lebih murah.

Dari sudut pandang praktis, keputusan menggelar acara mewah di tengah kinerja yang buruk juga menunjukkan masalah tata kelola. Apakah dewan direksi dan komisaris sudah melakukan pengawasan yang memadai? Apakah anggaran untuk acara tersebut sudah melalui proses persetujuan yang ketat? Publik berhak tahu. Apalagi Bank Jakarta (dulu Bank DKI) adalah bank milik pemerintah daerah, sehingga pengelolaan keuangannya harus transparan dan akuntabel. Setiap rupiah yang dibelanjakan harus jelas manfaatnya bagi masyarakat.

Opini: Antara Selebrasi dan Tanggung Jawab

Menurut saya, kasus ini bukan hanya soal satu acara mewah. Ini adalah cerminan dari budaya organisasi yang mungkin sudah kehilangan arah. Ketika angka-angka di laporan keuangan terus menurun, seharusnya yang dilakukan adalah introspeksi total, bukan malah pesta. Perusahaan yang baik akan merayakan pencapaian, bukan merayakan penurunan. Ada istilah "celebrating mediocrity"—merayakan yang biasa-biasa saja—yang sangat berbahaya dalam jangka panjang. Ini bisa menurunkan moral karyawan yang benar-benar bekerja keras dan membuat mereka bertanya-tanya: "Kenapa kami harus berusaha lebih baik jika dihargai sama dengan yang berkinerja buruk?"

Data dari survei internal yang dirilis OJK tahun lalu menunjukkan bahwa bank-bank yang fokus pada perbaikan sistem dan layanan justru mencatat pertumbuhan laba yang positif, bahkan di tengah tekanan ekonomi. Bank Jakarta bisa belajar dari kasus Bank Mandiri atau BCA yang secara konsisten berinvestasi di teknologi dan pelatihan SDM. Hasilnya? Kepercayaan nasabah tinggi, dan laba pun ikut naik. Ini bukan rahasia.

Harapan ke Depan: Lebih dari Sekadar Pesta

Justin memberikan pesan yang jelas kepada manajemen Bank Jakarta. "Harusnya, Bank Jakarta berbenah diri, bukannya berpesta-pora atas prestasi rendah. Ada target-target yang perlu dikejar, perbaikan-perbaikan sistem yang dilakukan, dan kepercayaan nasabah yang dipulihkan kembali," ujarnya. Ini adalah panggilan untuk kembali ke akar permasalahan. Bank Jakarta perlu melakukan audit menyeluruh terhadap sistem TI, memperkuat keamanan siber, dan yang terpenting, mendengar keluhan nasabah. Bukan hanya dengan memberikan layanan call center, tetapi juga dengan membuktikan melalui aksi nyata.

Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah acara mewah yang menghabiskan dana besar, melainkan layanan perbankan yang andal, cepat, dan aman. Nasabah tidak peduli seberapa megah acara yang digelar; mereka peduli apakah gaji mereka bisa dicairkan tanpa hambatan, apakah transfer dana bisa dilakukan dalam hitungan detik, dan apakah data mereka terlindungi. Mari kita renungkan bersama: sudahkah bank Anda benar-benar berpihak pada kebutuhan Anda, ataukah hanya asyik dengan kesibukan internalnya sendiri?

Dipublikasikan: 27 April 2026, 03:21
Diperbarui: 27 April 2026, 03:21
Gaji Turun, Sistem Error, Tapi Pesta Mewah? Nasib Nasabah Bank Jakarta di Balik Acara Gemerlap