Peristiwa

Tragedi di Pinggir Jalan: Kisah Makbulah dan Pelajaran dari Mudik yang Berakhir Pilu

Kisah Makbulah, pemudik Cianjur yang ditemukan meninggal di Cileungsi, mengingatkan kita akan risiko perjalanan mudik dan pentingnya persiapan kesehatan.

Penulis:adit
18 Maret 2026
Tragedi di Pinggir Jalan: Kisah Makbulah dan Pelajaran dari Mudik yang Berakhir Pilu

Bayangkan ini: subuh yang sepi, jalanan masih lengang, dan seorang lelaki terlihat duduk bersandar di pinggir jalan dengan tas besar di sampingnya. Bagi warga yang melintas, ia mungkin tampak seperti pemudik yang sekadar beristirahat sejenak dari perjalanan panjang. Tapi siapa sangka, di balik pose yang tampak biasa itu, tersimpan sebuah akhir perjalanan yang begitu tragis. Inilah kisah Makbulah, seorang pemudik asal Cianjur yang nasibnya berakhir di pinggir Jalan Raya Cibubur-Cileungsi.

Ditemukan Usai Salat Subuh: Awal dari Penemuan yang Mengharukan

Hari itu, Selasa tanggal 17 Maret 2026, suasana pagi di Kampung Kaum Tengah, Desa Cileungsi, masih tenang. Uum, seorang warga setempat, baru saja menyelesaikan salat subuh di Masjid Al-Manshurunal Muqorrobun. Dalam perjalanan pulang, matanya menangkap sosok yang duduk tak bergerak di pinggir jalan. "Awalnya saya kira cuma orang lelah yang tidur," cerita Uum dalam ingatannya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sudah cukup lama sosok itu tak bergerak sama sekali, padahal biasanya pemudik yang beristirahat sesekali masih mengubah posisi.

Rasa penasaran dan kecemasan mulai muncul. Uum pun menghubungi Ketua RT setempat. Bersama beberapa warga lain, mereka mendekati lokasi. Tapi tak seorang pun berani membangunkan lelaki itu. Ada firasat tidak enak yang menggantung di udara pagi itu. Akhirnya, keputusan diambil: laporkan ke Polsek Cileungsi. Dan ketika petugas datang, dugaan terburuk mereka terbukti. Lelaki yang kemudian diketahui bernama Makbulah itu telah meninggal dunia.

Proses Identifikasi dan Barang Bawaan yang Masih Utuh

Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, tiba di lokasi bersama timnya. Pemeriksaan awal menunjukkan sesuatu yang penting: tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh Makbulah. Ia mengenakan jaket ungu dan celana panjang hitam. Di sampingnya, barang-barang mudiknya masih tersusun rapi: sebuah tas besar berwarna biru berisi pakaian, dua kardus, serta tas selempang yang berisi ponsel dan dua dompet.

"Barang-barangnya masih lengkap, uang di dompet juga masih ada," jelas Kompol Edison. Ini menjadi petunjuk penting bahwa kejadian ini bukanlah tindak kriminal. Dari dokumen yang ditemukan, polisi bisa mengidentifikasi bahwa Makbulah adalah warga Kecamatan Kadupandak, Cianjur. Seorang pemudik yang sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halaman.

Mudik dan Risiko Kesehatan yang Sering Terabaikan

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung. Peristiwa yang menimpa Makbulah bukanlah kasus pertama. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa selama periode mudik, kasus kematian akibat penyakit yang diderita sebelumnya meningkat signifikan. Banyak pemudik yang memaksakan diri bepergian meski kondisi kesehatan tidak optimal.

Menurut catatan saya, ada pola yang sering terulang: pemudik usia lanjut dengan riwayat penyakit tertentu memutuskan untuk mudik tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. Perjalanan panjang, perubahan cuaca, kelelahan, dan stres perjalanan menjadi kombinasi yang berbahaya. Makbulah, berdasarkan pernyataan polisi, diduga meninggal karena sakit yang dideritanya. Ini mengingatkan kita bahwa mudik bukan sekadar tradisi, tapi juga perjalanan yang membutuhkan persiapan matang, terutama dari sisi kesehatan.

Respons Aparat dan Proses Evakuasi

Setelah memastikan tidak ada unsur pidana, tim dari Polsek Cileungsi melakukan evakuasi. Jenazah Makbulah dibawa ke RS Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Proses ini dilakukan dengan penuh khidmat, mengingat korban adalah seorang pemudik yang seharusnya sedang menikmati kebahagiaan pulang kampung.

Yang patut diapresiasi adalah upaya polisi untuk segera menghubungi keluarga Makbulah di Cianjur. Dalam situasi seperti ini, komunikasi yang cepat dan penuh empati sangat penting. Keluarga berhak mengetahui nasib saudara mereka sesegera mungkin, meski kabar yang diterima adalah kabar duka.

Refleksi: Lebih dari Sekadar Cerita Sedih

Kisah Makbulah seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Saat musim mudik tiba, kita sering terlalu fokus pada kemacetan, tiket transportasi, atau barang bawaan. Tapi ada aspek yang justru lebih krusial: kondisi fisik dan kesehatan kita sendiri. Berapa banyak dari kita yang benar-benar memeriksakan kesehatan sebelum mudik? Atau setidaknya, memastikan obat-obatan yang diperlukan tersedia selama perjalanan?

Pengalaman saya mengamati tradisi mudik selama bertahun-tahun menunjukkan satu hal: kita cenderung menganggap remeh risiko kesehatan. Padahal, perjalanan panjang dengan kondisi tubuh yang tidak fit bisa berakibat fatal. Makbulah mungkin hanya satu dari sekian banyak korban yang tidak terdengar ceritanya.

Penutup: Pelajaran dari Sebuah Perjalanan yang Terhenti

Di tengah gemuruh persiapan mudik dan euforia pulang kampung, mari kita luangkan waktu sejenak untuk mengingat Makbulah. Bukan untuk membuat kita takut, tapi untuk membuat kita lebih bijak. Perjalanan mudik seharusnya berakhir dengan pelukan keluarga, bukan dengan tragedi di pinggir jalan.

Mungkin kita perlu mulai membudayakan check-up kesehatan sebelum mudik. Atau setidaknya, lebih peka terhadap kondisi tubuh sendiri. Jika merasa tidak fit, tidak ada salahnya menunda perjalanan. Keluarga di kampung halaman pasti lebih ingin kita sampai dengan selamat, meski sedikit terlambat, daripada kita memaksakan diri dan berisiko mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.

Untuk Makbulah, semoga ia tenang di tempat peristirahatan terakhirnya. Dan untuk kita yang akan mudik, mari jadikan kisah ini sebagai pengingat: keselamatan dan kesehatan adalah harta paling berharga dalam setiap perjalanan. Karena di ujung perjalanan, ada orang-orang yang menunggu dengan rindu dan harapan. Jangan biarkan perjalanan pulang berubah menjadi perpisahan selamanya.

Dipublikasikan: 18 Maret 2026, 07:28
Diperbarui: 18 Maret 2026, 07:28
Tragedi di Pinggir Jalan: Kisah Makbulah dan Pelajaran dari Mudik yang Berakhir Pilu