Mengapa WFH Hanya Menyentuh Permukaan Masalah Hemat Energi? Analisis Mendalam dari Legislator
Ratna Juwita Sari mengkritisi pendekatan WFH sebagai solusi utama hemat energi. Simak analisis mendalam dan alternatif strategis yang diajukan.

Bayangkan sebuah kota besar di pagi hari. Jalanan lengang, gedung perkantoran sepi, tapi di rumah-rumah, lampu, AC, dan komputer menyala sejak subuh. Ini bukan gambaran masa depan yang jauh, tapi potret nyata jika kebijakan hemat energi hanya mengandalkan satu solusi: Work From Home. Seperti yang diungkapkan Ratna Juwita Sari, anggota Komisi XII DPR dari Fraksi PKB, pendekatan ini ibarat mengobati demam dengan kompres dingin—menyentuh gejala, tapi mengabaikan akar penyakit yang sesungguhnya.
Dalam pernyataannya yang saya telusuri, Ratna menyoroti rencana pemerintah yang akan dimulai April mendatang. Yang menarik dari pandangannya bukan penolakan terhadap WFH, melainkan penekanan bahwa ini hanyalah satu puzzle kecil dalam peta besar tata kelola energi nasional. "Kebijakan ini berisiko menjadi solusi instan yang terlihat efektif di permukaan, tapi sebenarnya tidak menyelesaikan masalah struktural," ujarnya dengan nada yang tegas namun tetap konstruktif.
Mengapa WFH Bukan Jawaban Utama?
Mari kita lihat data yang jarang dibahas. Menurut kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) tahun 2025, sektor industri menyumbang 47% konsumsi energi nasional, diikuti transportasi 28%, sementara sektor rumah tangga dan komersial (termasuk perkantoran) berada di angka 25%. Artinya, fokus pada pola kerja ASN—yang hanya bagian kecil dari sektor komersial—seperti berusaha mengeringkan lautan dengan gayung.
Ratna dengan tepat menggarisbawahi bahwa perpindahan aktivitas dari kantor ke rumah justru bisa menciptakan masalah baru. "Produktivitas kerja perlu dipertimbangkan, tapi yang lebih krusial adalah beban biaya listrik yang berpindah dari negara ke rumah tangga," jelasnya. Ini seperti memindahkan tumpukan sampah dari halaman depan ke belakang—lingkungan kantor mungkin terlihat bersih, tapi masalah utamanya belum teratasi.
Tiga Sektor Prioritas yang Sering Terabaikan
Dalam analisis saya berdasarkan pandangan Ratna, setidaknya ada tiga area yang dampaknya jauh lebih signifikan:
1. Gedung Pemerintah yang Boros Energi
Pernahkah Anda masuk ke gedung pemerintahan di siang bolong? AC menyala maksimal, lampu di ruang kosong tetap hidup, dan peralatan elektronik dalam mode standby. Ratna menekankan perlunya audit energi menyeluruh di fasilitas negara. "Efisiensi di gedung pemerintah bisa menghemat puluhan megawatt tanpa mengorbankan layanan publik," ujarnya.
2. Transportasi Publik yang Belum Optimal
Di Jakarta saja, menurut data BPS 2025, 70% perjalanan masih menggunakan kendaraan pribadi. Ratna mendorong penguatan transportasi massal bukan hanya sebagai solusi kemacetan, tapi sebagai strategi hemat BBM yang berdampak sistemik. "Setiap 1% peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi massal bisa menghemat setara dengan konsumsi BBM 50.000 mobil per hari," katanya memberikan gambaran yang konkret.
3. Industri dengan Teknologi Usang
Banyak industri masih menggunakan teknologi energi dari dekade lalu. Ratna mengusulkan insentif bagi perusahaan yang melakukan modernisasi peralatan. "Ini bukan hanya soal hemat energi, tapi meningkatkan daya saing industri nasional," tambahnya dengan perspektif ekonomi yang luas.
Pendekatan Sistemik yang Diajukan
Yang membedakan pandangan Ratna dari sekadar kritik adalah solusi konstruktif yang diajukan. Ia tidak hanya mengatakan "jangan WFH saja," tapi memberikan alternatif yang terukur:
Pertama, audit energi nasional berbasis data real-time yang mencakup sektor publik dan industri. Kedua, percepatan transisi ke energi terbarukan dengan target yang ambisius namun realistis. Ketiga, regulasi yang mendorong efisiensi tanpa membebani pelaku usaha kecil.
"Kebijakan simbolik tidak akan membawa perubahan nyata," tegas Ratna. "Kita perlu pendekatan yang berbasis data, terukur dampaknya, dan berkeadilan bagi semua pihak."
Opini: Antara Solusi Instan dan Transformasi Jangka Panjang
Dari analisis pandangan Ratna, saya melihat sebuah pola pikir yang penting untuk dikembangkan dalam kebijakan publik: the trade-off between quick wins and sustainable solutions. WFH memang bisa memberikan penghematan langsung yang terlihat dalam laporan triwulanan, tapi apakah ini membangun fondasi untuk ketahanan energi 10 tahun ke depan?
Data dari International Energy Agency menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil melakukan transformasi energi tidak mengandalkan kebijakan parsial seperti perubahan pola kerja, tapi melalui restrukturisasi sistemik yang mencakup produksi, distribusi, dan konsumsi energi. Jerman dengan Energiewende-nya atau Denmark dengan transisi ke energi angin adalah contoh bagaimana pendekatan holistik membuahkan hasil.
Ratna, dalam kapasitasnya sebagai legislator, mengingatkan kita bahwa DPR akan mengawal agar kebijakan penghematan energi tidak berhenti pada langkah-langkah jangka pendek. "Ini harus menjadi bagian dari transformasi energi nasional yang berkelanjutan," tandasnya, menegaskan komitmen untuk pengawasan jangka panjang.
Refleksi Akhir: Lebih dari Sekadar Mematikan Lampu
Pernyataan Ratna Juwita Sari mengajak kita untuk melihat hemat energi bukan sebagai program temporer, melainkan sebagai bagian dari budaya tata kelola negara yang bertanggung jawab. Ini tentang bagaimana kita sebagai bangsa mengelola sumber daya yang terbatas untuk kesejahteraan yang berkelanjutan.
Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: Apakah kita akan puas dengan solusi yang hanya menyelesaikan masalah hari ini, atau kita berani membangun sistem yang menjawab tantangan energi untuk generasi mendatang? Seperti yang diingatkan Ratna, pilihan ada di tangan kita—dan lebih penting lagi, di tangan para pembuat kebijakan yang hari ini menentukan arah energi nasional.
Mungkin inilah saatnya kita bergerak dari pola pikir quick fix menuju sustainable solution. Karena hemat energi yang sesungguhnya bukan tentang berapa banyak lampu yang kita matikan, tapi tentang seberapa bijak kita membangun sistem yang efisien, adil, dan berkelanjutan untuk semua.