Peristiwa

Ketika Dunia Bergejolak, Kemandirian Pangan Indonesia Jadi Tameng Utama Menurut Prabowo

Presiden Prabowo Subianto soroti ketahanan pangan nasional di tengah konflik global yang mendorong harga energi dan pangan melambung tinggi.

Penulis:adit
10 Maret 2026
Ketika Dunia Bergejolak, Kemandirian Pangan Indonesia Jadi Tameng Utama Menurut Prabowo

Bayangkan untuk sesaat: Anda sedang berbelanja di pasar tradisional. Aroma rempah-rempah segar memenuhi udara, suara tawar-menawar terdengar riuh, dan tumpukan bahan makanan terlihat melimpah. Sekarang, coba bayangkan skenario yang berbeda: rak-rak supermarket yang mulai menipis, label harga yang terus merangkak naik setiap minggu, dan ketidakpastian akan ketersediaan stok. Itulah gambaran yang dihadapi banyak negara saat ini, di tengah pusaran konflik global yang tak kunjung reda. Namun, menurut Presiden Prabowo Subianto, Indonesia punya cerita yang sedikit berbeda—cerita tentang ketahanan yang mulai terbangun.

Dalam pidato terbarunya, Prabowo tidak sekadar membahas politik luar negeri atau infrastruktur. Ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar dan langsung terasa di meja makan setiap keluarga: keamanan pangan. Di balik berita-berita tentang perang dan krisis energi, ada narasi lain yang sedang ditulis negeri ini, yakni upaya mencapai kemandirian di sektor yang paling vital.

Lautan Api di Timur Tengah dan Gelombangnya yang Sampai ke Dapur Kita

Prabowo secara gamblang mengakui bahwa dunia saat ini bagai sebuah desa kecil yang penuh gejolak. Konflik di Ukraina belum benar-benar usai, Timur Tengah kembali memanas, dan ketegangan di berbagai kawasan lain terus menjadi ancaman laten. "Bumi kita sudah menjadi sesungguhnya kecil," ujarnya. Apa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, seperti kenaikan harga BBM akibat konflik, dengan cepat berubah menjadi gelombang yang menerpa ekonomi domestik, termasuk berpotensi mendongkrak harga pangan.

Namun, di sinilah letak poin penting yang ia sampaikan. Di tengah badai ketidakpastian global itu, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton yang pasrah. Pencapaian swasembada beras, yang merupakan makanan pokok mayoritas penduduk, menjadi fondasi pertama yang kokoh. Ini bukan sekadar klaim, tetapi sebuah basis strategis. Menurut data Kementerian Pertanian, produksi beras dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan tren stabil, meski tantangan iklim dan alih fungsi lahan tetap harus diwaspadai.

Lompatan Berikutnya: Dari Piring Nasi ke Sumber Protein

Pencapaian di sektor beras, bagi Prabowo, hanyalah babak pertama. Visinya melompat lebih jauh ke tahap berikutnya: kemandirian protein. "Kita sebentar lagi akan mencapai kemampuan kita memenuhi kebutuhan protein kita," tegasnya. Pernyataan ini menarik untuk dikaji. Kebutuhan protein—yang bisa berasal dari daging, ikan, telur, kacang-kacangan, dan susu—seringkali menjadi indikator kesejahteraan dan ketahanan pangan yang lebih kompleks. Ketergantungan impor untuk komoditas seperti daging sapi dan kedelai masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Di sinilah opini saya sebagai penulis muncul: Fokus pada protein adalah langkah yang tepat dan visioner. Ketahanan pangan di abad 21 bukan lagi sekadar soal kenyang, tetapi soal gizi. Sebuah bangsa yang ingin memiliki sumber daya manusia unggul harus memastikan akses warganya terhadap protein yang berkualitas. Upaya pengembangan peternakan rakyat, budidaya perikanan tangkap dan budidaya yang berkelanjutan, serta diversifikasi sumber protein nabati lokal (seperti dari jamur atau kacang-kacangan lokal) harus mendapat prioritas. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan dan produktivitas bangsa.

Mimpi Swasembada Energi: Bahan Bakar dari Kebun Sendiri

Prabowo juga menyentuh akar masalah lain yang sering memicu inflasi: energi. "Bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi," katanya. Ia melihat potensi besar pada kekayaan alam hayati Indonesia untuk menjawab tantangan ini. Kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu disebutkannya bukan sebagai komoditas semata, tetapi sebagai calon sumber bahan bakar nabati (biofuel).

Ini adalah perspektif yang menarik dan penuh tantangan. Pengembangan biofuel memang menjanjikan kemandirian dan pengurangan emisi. Namun, data dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan bahwa pengembangan biofuel generasi pertama (seperti biodiesel dari sawit) harus berhadapan dengan isu sustainability, kompetisi dengan lahan pangan, dan keberlanjutan pasokan. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan biofuel generasi kedua atau ketiga yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan, misalnya dari limbah pertanian atau tanaman non-pangan di lahan marginal. Visi Prabowo perlu diikuti dengan roadmap teknologi dan regulasi yang jelas agar tidak terjebak dalam trade-off antara energi dan pangan.

Jalan Diplomasi di Tengah Pusaran: Tetap Bebas dan Aktif

Di tengah narasi ketahanan pangan dan energi, Prabowo kembali menegaskan kompas politik luar negeri Indonesia: bebas aktif dan non-blok. "Kita tidak ingin ikut blok mana pun," ujarnya. Posisi ini, menurut saya, bukanlah sikap pasif. Justru, dalam konteks ketahanan pangan, ini adalah strategi cerdas. Dengan tidak terikat pada satu blok kekuatan, Indonesia menjaga ruang geraknya untuk bekerja sama dengan berbagai negara dalam hal transfer teknologi pertanian, investasi di sektor hilir pangan, dan akses pasar yang adil.

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang ia sebutkan berlaku juga dalam diplomasi pangan global. Indonesia bisa menjadi jembatan, sekaligus menjaga kedaulatan atas pangan nasionalnya. Ketika banyak negara berlomba-laman mengamankan pasokan pangan mereka dengan kebijakan protektif (seperti larangan ekspor), posisi Indonesia yang mandiri akan memberikannya leverage dan resiliensi yang lebih besar.

Penutup: Bersyukur itu Baik, Berbenah itu Keharusan

Jadi, apa yang bisa kita ambil dari pernyataan Presiden Prabowo ini? Pertama, ada sebuah pengakuan yang realistis: dunia sedang tidak baik-baik saja, dan gejolaknya akan terasa hingga ke dapur kita. Kedua, ada sebuah optimisme yang berdasar: bahwa langkah-langkah menuju kemandirian pangan dan energi bukanlah mimpi di siang bolong, tetapi sebuah proses yang sedang berjalan.

Namun, rasa syukur karena "hampir swasembada" tidak boleh membuat kita berpuas diri. Momentum ini harus menjadi peluru untuk mempercepat reformasi di sektor pertanian dan energi: dari membenahi rantai pasok dan logistik pangan, mendorong inovasi teknologi pertanian presisi, memberdayakan petani dan peternak skala kecil, hingga memastikan kebijakan biofuel yang benar-benar berkelanjutan. Ketahanan pangan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah perjalanan terus-menerus. Di tengah dunia yang bergejolak, kemampuan untuk memberi makan diri sendiri bukan lagi sekadar prestasi, melainkan sebuah kedaulatan. Dan itulah yang sedang kita perjuangkan.

Dipublikasikan: 10 Maret 2026, 12:41
Diperbarui: 11 Maret 2026, 16:00
Ketika Dunia Bergejolak, Kemandirian Pangan Indonesia Jadi Tameng Utama Menurut Prabowo