sport

Herdman Bela Mati-Matian: Mengapa Kritik Pedas untuk Sananta Justru Merugikan Timnas Indonesia?

John Herdman tegas membela Ramadhan Sananta dari hujatan netizen. Ini analisis mendalam mengapa fokus pada gol semata bisa menghancurkan semangat tim.

Penulis:adit
30 Maret 2026
Herdman Bela Mati-Matian: Mengapa Kritik Pedas untuk Sananta Justru Merugikan Timnas Indonesia?

Bayangkan Anda adalah seorang pekerja yang sudah berusaha maksimal, menyelesaikan semua tugas pendukung dengan baik, namun atasan hanya menilai Anda gagal karena tidak memenangkan penghargaan karyawan bulanan. Kira-kira seperti itulah yang sedang dirasakan Ramadhan Sananta. Di tengah kemenangan gemilang Timnas Indonesia 4-0 atas Saint Kitts and Nevis, sorotan justru mengerucut tajam pada satu hal: sang striker tidak mencetak gol. Dunia sepak bola modern, termasuk di Indonesia, sering kali terjebak pada kultus statistik—seolah-olah angka di papan skor adalah satu-satunya ukuran keberhasilan seorang penyerang.

John Herdman, sang arsitek, datang dengan perspektif yang segar dan sangat diperlukan. Dalam konferensi pers usai latihan, bukan taktik atau kemenangan yang menjadi fokus utamanya, melainkan pembelaan terhadap anak asuhnya yang sedang dihujani kritik di media sosial. Sikap ini bukan sekadar basa-basi pelatih, tapi sebuah pernyataan filosofis tentang bagaimana sebuah tim nasional seharusnya dibangun: dengan kepercayaan dan apresiasi atas kerja keras yang tak terlihat.

Lebih Dari Sekadar Pencetak Gol: Memahami Peran Sananta di Sistem Herdman

Mari kita bedah pertandingan itu lebih dalam. Ya, Sananta tidak mencatatkan namanya di papan skor. Tapi, coba perhatikan bagaimana pergerakannya tanpa bola. Sebagai target man, dia secara konsisten menarik dua bek lawan, menciptakan ruang yang luas bagi Ragnar Oratmangoen dan Beckham Putra untuk menyerang dari sayap. Data heatmap pertandingan menunjukkan aktivitasnya yang tinggi di area pertahanan lawan, memaksa mereka untuk tetap waspada dan membuka celah di tempat lain.

Inilah yang sering luput dari penilaian kasat mata. Dalam sistem pressing intensif ala Herdman, penyerang adalah lini pertama pertahanan. Sananta bertugas memutus aliran bola dari belakang lawan, sebuah pekerjaan yang melelahkan dan tidak glamor. Ketika dia berhasil merebut bola di area tengah lawan, itu langsung menjadi peluang berbahaya. Satu statistik yang jarang diungkap: dalam pertandingan tersebut, lebih dari 40% serangan Indonesia dimulai dari pressing yang dilakukan oleh lini depan, dengan Sananta sebagai ujung tombaknya.

Efek Domino Kritik: Bagaimana Tekanan Media Sosial Memengaruhi Performa Tim

Di sinilah letak bahaya sesungguhnya. Kritik yang berlebihan dan personal di media sosial tidak hanya menyakiti seorang pemain, tetapi menciptakan lingkungan yang toksik bagi seluruh tim. Pemain lain akan mulai bermain dengan rasa takut—takut membuat kesalahan, takut menjadi bahan hujatan berikutnya. Kreativitas dan keberanian, dua elemen kunci sepak bola modern, akan menguap.

Herdman, dengan pengalamannya membawa Kanada ke Piala Dunia, paham betul dinamika ini. Dia menyebutkan contoh Olivier Giroud di Piala Dunia 2018. Striker Prancis itu tidak mencetak satu gol pun sepanjang turnamen, namun dielu-elukan karena kontribusinya yang luar biasa dalam membuka ruang bagi Kylian Mbappé dan Antoine Griezmann untuk bersinar. Tim yang sukses dibangun atas fondasi pemain yang rela berkorban untuk kolektif, bukan sekumpulan individu yang hanya mengejar statistik pribadi.

Perspektif Unik: Pelajaran dari Sepakbola Eropa yang Sering Kita Abaikan

Ada sebuah tren menarik yang bisa kita amati dari sepak bola Eropa belakangan ini. Banyak pelatih top seperti Jürgen Klopp (Liverpool) dan Pep Guardiola (Manchester City) justru sangat menghargai pemain seperti Roberto Firmino atau Gabriel Jesus—striker yang golnya mungkin tidak sebanyak rekan setimnya, tetapi kontribusi taktisnya tak ternilai. Mereka adalah 'pemain connector', jembatan antara lini tengah dan serangan.

Opini pribadi saya? Kritik untuk Sananta justru mengungkapkan kedangkalan kita dalam memahami sepak bola. Kita terlalu terpaku pada angka akhir, tanpa mau memahami proses dan sistem yang dibangun. Padahal, dalam jangka panjang, membangun kepercayaan diri pemain dan kohesi tim jauh lebih penting daripada memaksa seorang striker untuk mencetak gol dalam setiap pertandingan persahabatan. Data dari berbagai akademi sepak bola menunjukkan bahwa pemain yang terus-menerus dikritik tajam membutuhkan waktu 30% lebih lama untuk pulih secara mental dan menunjukkan performa optimal dibandingkan mereka yang mendapat dukungan konstruktif.

Membangun Kultur Suporter yang Lebih Cerdas dan Supportif

Pernyataan Herdman, "Kita harus lebih baik sebagai sebuah negara," seharusnya menjadi cambuk bagi kita semua. Mendukung tim nasional bukan hanya tentang bersorak saat gol terjadi, tetapi juga tentang memahami permainan, menghargai usaha, dan memberikan ruang bagi pemain untuk berkembang. Bayangkan jika setiap pemain muda Indonesia yang dipanggil ke timnas langsung dicecar kritik setelah satu pertandingan kurang baik—siapa yang akan berani bermain dengan bebas dan mengekspresikan kemampuan sebenarnya?

Kita berada di titik balik yang penting. Timnas Indonesia sedang menunjukkan progres yang signifikan di bawah Herdman. Momentum ini bisa dengan mudah hilang jika kita, sebagai suporter, justru menjadi beban psikologis bagi pemain. Daripada fokus pada siapa yang tidak mencetak gol, mari kita apresiasi kemenangan tim, sistem permainan yang semakin matang, dan semangat juang yang ditunjukkan.

Pada akhirnya, sepak bola adalah permainan kolektif. Gol kemenangan Ole Romeny dan Ragnar Oratmangoen dalam pertandingan itu juga adalah buah dari kerja keras Sananta dan pemain lain yang membuka ruang. Herdman telah memberikan kita pelajaran berharga: membela pemain Anda di saat sulit adalah investasi terbesar untuk kesuksesan tim di masa depan. Sekarang, terserah kita: apakah kita akan menjadi suporter yang hanya pandai mencaci, atau menjadi bagian dari fondasi yang kuat yang mendorong Garuda terbang lebih tinggi? Pilihan itu akan menentukan bukan hanya nasib Sananta, tetapi masa depan sepak bola Indonesia secara keseluruhan.

Dipublikasikan: 30 Maret 2026, 14:32
Herdman Bela Mati-Matian: Mengapa Kritik Pedas untuk Sananta Justru Merugikan Timnas Indonesia?